Pergi Haji, antara Niat dan ikhtiar

Sebagai seorang Muslim, menunaikan ibadah Haji adalah satu kewajiban yang teramat dinginkan oleh setiap umat islam. Terpenuhinya rukun ke lima dari rukun Islam ini, tak pelak membawa keharuan tersendiri bagi yang bersangkutan. Bukan sekedar sebuah gelar karena dipanggil Pak Haji atau Bu Haji, tapi Haji sendiri mempunyai nilai filosofi yang teramat dalam.

Haji, pada dasarnya adalah sebuah napak tilas perjalanan ketaqwaan seorang Ibrahim kepada tuhannya. Bagaimana sebuah perjalanan keimanan yang begitu penuh dengan berbagai rintangan. Bisa juga pergi haji itu sebenernya bisa disebut  wisata juga, yaitu wisata Rohani karna selain beribadah kepada Allah tapi menyambung silahturahim kepada manusianya, entah itu dengan orang yang berasal dari satu kampong, satu pulau, satu Negara bahkan beda benua yang bertemu dalam satu titik. Hanya yang  dilakukan pada waktu tertentu saja setiap tahunnya.

Namun untuk melaksanakan ibadah haji ini, memerlukan berbagai persiapan. Tidak hanya persiapan materi, tapi juga persiapan hati dan mental. Karena banyak yang secara materi sudah siap, tapi secara mental serta hatinya malah menolak. Itulah sebabnya banyak alasan yang bergulir.” Belum terpanggil, begitu alasannya. Padahal Allah memanggilnya setiap hari, lima kali dalam sehari. Sikap kita terhadap panggilan Alloh itu akan menjadi dasar panggilan Alloh selanjutnya. Maksudnya seperti ini, Sikap kita terhadap panggilan Alloh untuk sholat (Adzan), akan menjadi landasan sikap terhadap panggilan Alloh untuk berhaji atau umrah. Dan panggilan berhaji juga akan menjadi landasan sikap kita ketika menyikapi panggilan Alloh selanjutnya, yaitu kematian.

Artinya, orang yang menyikapi panggilan sholat dengan baik, segera menunaikan dan tidak menunda-nunda waktu sholat, maka Alloh juga akan memudahkan langkahnya ketika Alloh memanggilnya untuk menunaikan ibadah Haji. Dan sikapnya yang sangat antusias memenuhi panggilan Haji dari Alloh, juga akan mempermudah dirinya mencapai khusnul khotimah di akhir hidupnya.

Jadi, semua panggilan Alloh itu ternyata saling kait mengait.Jangan pernah takut atau gentar jika sudah berazzam untuk berhaji. Banyak cerita tentang orang yang miskin tapi ternyata Alloh ijabah doanya, hingga bisa bener-bener naik Haji. Masih inget tentunya cerita tentang tukang bubur yang berazzam memberangkatkan ibunya naik haji di salah Tv swasta nasional beberapa waktu silam. Padahal kalau secara akal manusia berapa sih penghasilan seorang tukang bubur setiap harinya??? Belum lagi untuk makan, berapa yang mau ditabung buat haji. Pasti akan memakan waktu yang sangat lama agar biar bisa berangkat pergi haji entah itu pergi hajinya dengan haji reguler atau ONH plus.

Man Jadda wa jadda....Siapa bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan. Itu janji Alloh terhadap semua kesungguhan ikhtiar hamba-Nya. Dan hendaknya kita juga tidak membatasi rejeki yang Alloh berikan hanya karena kekurangan yang kita miliki. Karena sesungguhnya Alloh tidak hanya melihat hasil, tetapi juga proses dalam hal ini ikhtiar kita dalam menjemput apa-apa yang kita harapkan, termasuk juga keinginan untuk pergi Haji.

Saat ini banyak kemudahan yang dapat kita pergunakan sebagai jalan ikhtiar kita untuk berhaji. Kalau dahulu, orang harus menabung tanpa bisa memperkirakan kapan ia bisa berangkat haji, tapi sekarang banyak bank-bank baik konvensional ataupun syariah yang menawarkan kemudahan salah satunya adalah dana talangan haji. Program ini memberikan pinjaman kepada nasabah untuk menutupi kekurangan pembiayaan haji agar mendapatkan seat atau kursi keberangkatan dan pada saat pelunasan BPIH. terpenuhinya kebutuhan akan dana dadakan yang digunakan untuk melunasi BPIH sebagai satu persyaratan untuk mendapatkan kursi keberangkatan. Selain itu pinjaman yang diberikan pun diberikan melalui proses yang cepat dan sangat mudah.
Jangan ragu untuk menunaikan ibadah haji jika hanya karena keterbatasan kemampuan dana. Perbaiki kualitas diri dalam menjawab panggilan Illahi di setiap waktu sholat, berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan banyak-banyaklah bershodaqoh sehingga semesta akan mendukung dan ikut mengamini doa yang terlantun.
Keterbatasan bukanlah suatu kendala, tapi adalah bagian dari perjuangan kesungguhan dalam berikhtiar. Doa juga bukan hanya rangkaian kata yang tersusun indah penuh pengharapan, tapi juga merupakan kekuatan yang akan memperkokoh azzam dan membuka pintu langit kerajaan Alloh. Dan Shodaqoh adalah sebuah investasi energi positif yang ikut menggerakan kuasa-Nya hingga dengan rahman dan rahim-Nya....Ia akan mengabulkan lantunan pengharapan di ujung ikhtiar yang sudah kita lakukan. ( fwk/2012 )


1 komentar: